5 Teori Pembuatan Logo yang Harus Diketahui Pebisnis dan Desainer

Free Download Logo Format PNG > Artikel > 5 Teori Pembuatan Logo yang Harus Diketahui Pebisnis dan Desainer

Sebagai pelaku usaha memiliki logo atau ikon perusahaan merupakan hal penting, tapi diperlukan pemahaman terhadap teori pembuatan logo. Bukan hanya pelaku usaha, tapi juga para desainer harus bisa memahami hal ini.

Fungsinya agar dapat membuat kreasi desain sesuai dengan produk maupun layanan jasa milik klien. Pembuatan simbol untuk bisnis, brand, atau layanan ini, tidak dilakukan dengan mudah, sebab diperlukan tahapan dan proses mulai dari pembuatan sketsa hingga hasil akhir.

Selain itu, juga dibutuhkan teori persepsi visual yang menganalisa bagaimana manusia mengelompokkan objek berbeda menjadi satu baik utuh dalam kesatuan maupun kelompok. Persepsi ini disajikan dalam elemen terpisah dan diatus dengan cara tertentu.

Dengan teori ini desainer dapat memahami bagaimana sebuah desain ditafsirkan dan dirasakan sehingga dapat menciptakan makna visual sesuai dengan pesan dari merek atau produk yang didesain logonya.

5 Teori Pembuatan Logo Penting Bagi Pebisnis dan Desainer

Masyarakat umum mungkin berpikir bahwa pembuatan logo hanya berfokus pada pengerjaan desain, berupa membuat sketsa, gambar, pewarnaan, dan penggunaan teknik seni. Namun, dalam pelaksanaannya, desainer juga berdasar pada teori-teori dasar visual.

Teori visual terkait pembuatan logo menjadi dasar teknik yang akan digunakan desainer ketika mendesain. Dalam hal ini ada beberapa teori membangun dasar untuk menciptakan makna visual di bidang desain logo, yaitu:

  1. Teori Kedekatan

Teori pembuatan logo yang pertama adalah kedekatan, yakni ketika elemen berbeda-beda dikelompokkan dan diletakkan dekat satu sama lain sehingga membentuk sebuah kelompok utuh.

Dalam metode ini dipertimbangkan bagaimana mata manusia memanfaatkan kerning yang tepat dalam membedakan huruf dalam membentuk kata individual dan secara kesatuan.

Pemilik usaha bisa menentukan ikon-ikon apa saja yang digunakan untuk membentuk pola tertentu. Misalnya, bagi pengusaha bidang kuliner ingin menggunakan ikon alat makan atau bahan makanan.

Penempatan huruf atau ikon menjadi sangat penting, termasuk pengaturan ruangnya sehingga tidak membingungkan dan dapat terbaca oleh audiens. Dengan demikian, tidak terjadi kesalahan penafsiran.

Teori pembuatan logo diaplikasikan oleh banyak perusahaan, salah satunya Unilever. Kamu pernah melihat simbol Unilever di mana di bagian atas terdapat huruf U besar yang dibentuk dari 25 ikon.

Ikon-ikon mini tersebut dirancang dengan saksama untuk membentuk huruf U. Sekilas terlihat tumpang tindih antara 25 ikon tersebut. Namun, apabila diperhatikan dengan saksama, kamu bisa membedakan masing-masing ikon.

Terdapat ikon pohon kelapa, tanda hati, daun, burung, sayuran, bunga, dan lainnya. Penempatan dan ukuran dirancang dengan cermat sehingga tetap dapat terjalin bersama dalam satu kelompok.

Logo ini terlihat sederhana, tapi cukup rumit dengan makna mendalam di baliknya. Pesan yang ingin disampaikan adalah menjadikan kehidupan bersama berkelanjutan.

  1. Teori Penutup

Selanjutnya teori pembuatan logo penutup, yakni reifikasi yang mengacu pada membuat simbol konkret, mewujudkan sesuatu, dan menjadikannya sesuatu menjadi nyata.

Dalam metode ini digunakan prinsip konstruksif sehingga ketika melihatnya otak akan bekerja untuk membangun sesuatu berdasarkan logika. Jadi, ketika melihatnya otak audiens akan bekerja menggambarkan atau menyelesaikan suatu bentuk dan objek.

Terkadang, bentuknya tidak benar-benar tertutup sepenuhnya, tapi berupa perekat yang menyatukan elemen. Metode ini terlihat cukup kompleks karena pendekatannya jatuh pada kecenderungan manusia dalam menemukan dan mencari pola.

Rahasia dari penggunaan teori pembuatan logo penutupan adalah bagaimana memberikan informasi yang cukup kepada audiens, tapi juga memaksa mereka untuk mengisi sisanya. Terlihat seperti tantangan yang harus diselesaikan oleh audiens.

Jika menggunakan metode ini dalam desain logo, harus bisa mengendalikan informasi yang diberikan. Jika terlalu banyak, maka kebutuhan penutupan menjadi tenang. Namun, ketika terlalu sedikit, maka mata akan memandang elemen sebagai bagian terpisah.

Jadi, proses desainnya sendiri merupakan proses yang cukup rumit dan memerlukan pematangan ide. Selain itu, harus ditentukan seberapa banyak informasi disajikan ke dalam logo yang didesain.

  1. Prinsip Kesamaan

Teori pembuatan logo berikutnya adalah prinsip kesamaan. Metode yang digunakan di sini adalah mengutamakan penggunaan objek dengan karakteristik visual mirip satu sama lain. Jadi, secara otomatis akan saling terkait.

Semakin tinggi tingkat kemiripan satu sama lain, maka akan semakin tinggi kemungkinan ditafsirkan sebagai satu kelompok. Kesamaannya tidak berasal dari apa objek tersebut, melainkan seperti apa rupanya.

Pertama-tama tentukan konsep kesamaan yang akan dipilih, apakan rupa, cara, bentuk, orientasi, nilai, warna atau ukuran. Setelah menentukan konsep barulah sketsa dibuat, kemudian pembubuhan makna, dan proses pembuatan desain logo dilaksanakan.

  1. Teori Stabilitas

Dalam proses pembuatan desain menggunakan teori pembuatan logo stabilitas, mengedepankan pada kemampuan mata manusia untuk melihat dua hal berbeda. Di sini desainer akan bermain dengan penafsiran dari audiens setelah melihat gambar.

Setiap orang dapat memiliki penafsiran berbeda ketika melihat sebuah gambar. Hal ini berdasarkan pengalaman dari masing-masing orang yang berbeda-beda sehingga menimbulkan interpretasi berbeda.

Di teori stabilitas ini difokuskan mengenai pemahaman seseorang atas sebuah gambar dan ikon di dalamnya. Ketika audiens melihat gambar tersebut akan muncul dua interpretasi berbeda dan mencari yang lebih dominan.

Dalam teori pembuatan logo stabilitas berfokus pada seni penipuan yang pada kenyataannya kedua penafsiran tidak bisa dilihat sekaligus. Audiens akan menimbang dan merenungkan kedua gagasan kemudian mengambil keputusan.

Pada akhirnya, akan muncul keputusan mengambil interpretasi paling dominan. Interpretasi ini dapat diambil lebih cepat ketika audiens dapat melihat mana ikon lebih dominan.

Akan tetapi, tidak sedikit audiens yang menjadi semakin bingung setelah melihat logo terlalu lama. Jadi, apabila pemilik usaha ingin menekankan maksud tertentu, maka desainer harus bisa membuat salah satu ikon menjadi lebih dominan.

  1. Teori Keberlangsungan

Terakhir ada teori pembuatan logo keberlangsungan yaitu berfokus pada elemen yang selaras satu sama lain secara visual ketika digabungkan. Ambil contoh gambar garis tunggal yang terlihat continue dan berdiri sendiri.

Namun, ketika semakin halus segmennya dan dipadukan dengan garis serupa, maka makin tinggi peluang dipersepsikan menjadi bentuk terpadu. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana garis memotong benda, atau menyelaraskan dengan elemen lain.

Garis dapat digunakan sebagai fokus kemudian mengarah ke obyek lainnya, bisa ikon tertentu maupun huruf. Bisa bersinggungan atau berada di samping, atas, maupun bawah. Tergantung dari ide desain masing-masing desainer.

Mari ambil contoh dari logo yang sangat umum di Indonesia, yaitu Coca-Cola. Teori pembuatan logo keberlangsungan berlaku di sini dalam bentuk huruf C pada Coca dan C pada Cola.

C yang pertama memiliki garis lebih panjang di bagian bawah, mengikuti seluruh huruf dalam kata Coca, tapi tidak menyinggung salah satu huruf tersebut.

Kemudian C pada Cola, garis pada bagian atas huruf membentuk lingkaran oval, kemudian bergerak melengkung menembus huruf L hingga mencapai bagian atas huruf a.

Visual ini secara tidak disadari akan mengajak audiens untuk mengikuti dari huruf C hingga a di kedua kata, dan akhirnya membaca kata Coca-Cola. Ilmu psikologi sangat berpengaruh di sini, terutama memengaruhi visual dari audiens.

Setelah mengikuti polanya, maka akan membaca nama produknya kemudian mengingat dan menghafalkan brand tersebut. Cara yang sangat ampuh untuk memengaruhi audiens mengenal, melihat, dan mengingat nama sebuah produk.

Teori-teori yang digunakan di atas pada dasarnya berasal dari ilmu psikologi, yakni melakukan manipulasi pada penglihatan manusia untuk mengikuti arahan dari si pembuat logo. Teknik psikologi penglihatan ini sangat dibutuhkan dalam bidang visceral seperti desain logo.

Penerapannya tidak sembarangan, melainkan harus melewati pemahaman dari masing-masing teori, kemudian baru mengaplikasikannya. Penerapan teori pembuatan logo yang tepat akan mampu menghasilkan desain terbaik dan efektif menarik audiens.